Kembali dimasa itu, waktu dimana ada sesosok bocah perempuan dengan tinggi badan 130 cm, dikuncir dua dan berponi rata...
Aku, hanya seorang anak kecil yang menyukai poni rata -terkadang dikuncir dua- dengan sifat yang tomboi. Anak kecil, ya lagi lagi anak-yang-kecil, pasti punya khayalan setinggi bulan yang tak terbatas. Terkecuali aku. Aku tak begitu menyukai hal-hal yang berbau masa depan, entah cita-cita dan semacamnya, berpikir seperti itu terlalu rumit bagiku. Melakukan hal yang disukai, itu lah aku dimasa itu. Membaca majalah Winnie The Pooh edisi terbaru, main masak-masakan, main petak umpet, dan lagi-lagi, poni rata. Aku bahkan pernah menggunting rambutku sendiri demi mendapatkan poni rata diumur 4 tahun, alhasil ngawur berantakan, dan akhirnya bunda yang merapikan rambut poni rataku.
Aku, hanya seorang anak kecil yang menyukai poni rata -terkadang dikuncir dua- dengan sifat yang tomboi. Anak kecil, ya lagi lagi anak-yang-kecil, pasti punya khayalan setinggi bulan yang tak terbatas. Terkecuali aku. Aku tak begitu menyukai hal-hal yang berbau masa depan, entah cita-cita dan semacamnya, berpikir seperti itu terlalu rumit bagiku. Melakukan hal yang disukai, itu lah aku dimasa itu. Membaca majalah Winnie The Pooh edisi terbaru, main masak-masakan, main petak umpet, dan lagi-lagi, poni rata. Aku bahkan pernah menggunting rambutku sendiri demi mendapatkan poni rata diumur 4 tahun, alhasil ngawur berantakan, dan akhirnya bunda yang merapikan rambut poni rataku.
